Gallery

Kenal HURUF dan ANGKA Tanpa DIPAKSA

Sesuaikan dengan "gaya belajarnya".

"Ini huruf apa, Sayang?" tanya seorang ibu pada anaknya yang masih batita. "Nah, coba kalau ini angka berapa?" lanjut sang ibu sambil telunjuknya terus menelusuri huruf demi huruf artikel sebuah tabloid dihadapannya. Bila si kecil berhasil menjawab dengan benar, maka si ibu serta merta memeluk dan menciumnya. Bila salah, si ibu langsung memberi koreksi. "Ini bukan huruf 'S', tapi 'E'." Demikian seterusnya.

Mengenalkan huruf dan angka pada si kecil tentu saja baik, seperti halnya mengenalkan si batita pada stimulasi lainnya. Hanya saja, tak jarang orangtua terkesan memaksanya untuk bisa hafal abjad dari A sampai Z. Bahkan target pun dibuat agar anak bisa membaca dan berhitung sederhana di usia tiga tahun misalnya. Banyak orangtua beranggapan, makin cepat anak kenal huruf dan angka, makin mudah baginya untuk menjadi siswa berprestasi nantinya. Di sisi lain, tentu ada kebanggaan tersendiri bila si kecil lebih "pintar" ketimbang anak sebayanya. Nah, bagaimana agar pengenalan tidak mengarah pada pemaksaan? Inilah rambu-rambu.

RAMBU-RAMBU PENTING

* Tumbuhkan minat

Belajar huruf dan angka pada usia di bawah tiga tahun lebih pada menumbuhkan minat atau ketertarikan untuk mengenal, bukan agar anak bisa hafal di luar kepala. Boleh jadi, si kecil bisa hafal huruf dan angka karena mengikuti urutannya, yaitu A, B, C atau 1, 2, 3 dan seterusnya. Akan tetapi begitu huruf atau angka dibolak-balik atau diacak, ia "bingung" tak tahu huruf/angka apa yang ditanyakan.

Perhatikan pula, apakah anak lebih tertarik membaca atau berhitung. Bila anak cenderung lebih tertarik berhitung, tentu jangan paksa dia untuk membaca. Demikian sebaliknya. Begitu pula bila si kecil belum menunjukkan minatnya entah membaca atau berhitung, maka tak perlu dipaksakan. Perlu diketahui, kemampuan tiap anak untuk mengenal huruf dan angka berbeda, ada yang cepat dan ada pula yang tidak cepat. Lagi-lagi, berpulang pada minat, ketertarikan atau kesiapan si anak itu sendiri.

* Awali dengan yang mudah

Memang tak ada patokan khusus, mana yang harus dikenalkan lebih dulu; angka atau huruf dan harus dikenalkan secara berurutan atau tidak. Yang pasti, kenalkan dengan yang paling mudah diucapkan anak. Misalnya, mengenalkan huruf "a" ketimbang huruf "r" yang pasti lebih sulit.

* Tak perlu ditargetkan

Target, contohnya anak harus belajar satu huruf atau satu angka kemungkinan membuatnya bosan. Tak perlu menggunakan target, karena di usia ini si kecil tak harus hafal angka maupun huruf.

* Kreatif

Orangtua sebaiknya kreatif dalam mengenalkan si kecil abjad dan huruf. Agar tak bosan, gunakan berbagai cara dalam suasana. Umpamanya, melalui permainan tebak-tebakan, minta anak untuk mencari huruf tertentu. Bila bisa menjawab pertanyaan dengan benar, berarti ia sudah paham. Lama-kelamaan anak tertantang menyebutkan huruf dan angka yang ditemuinya sepanjang jalan yang dilaluinya.

* Gaya belajar

Satu hal penting lainnya, cara mengenalkan pada anak berbeda-beda, sesuai dengan "gaya belajarnya", apakah secara visual (gambar), kinestetik (gerak), atau auditif (suara). Dengan begitu, akan mempermudah anak menyerap "pelajaran" yang diterimanya. Berikut penjelasannya:

1. Visual

Penglihatan anak dengan gaya belajar visual relatif lebih tajam. Ia cenderung mengekspresikan sesuatu lewat gerakan tubuh, misalnya geleng-geleng kepala untuk mengatakan "tidak", atau mengangguk untuk mengatakan "ya". Dia menyukai cara belajar dengan peragaan. Sebaliknya, dia bukan pendengar yang baik, jadi kurang bisa menangkap informasi yang diberikan secara lisan.

Solusi:

Anak-anak dengan gaya belajar visual membutuhkan bukti konkret. Orangtua bisa mengenalkan huruf dan angka disertai gambar-gambar yang menarik. Aktivitas belajar dengan cara ini mudah ditangkap anak sebab gambar-gambar yang menarik akan diserapnya dengan cepat. Contoh, gunakan gambar yang digunting dari majalah kemudian sebutkan kata-kata yang dimulai dengan huruf tertentu seperti huruf "a" untuk "ayam", "apel", dan sebagainya. Atau buat potongan huruf-huruf dan minta anak mencari bentuk yang sama. Agar anak mudah memahami huruf yang dimaksud, orangtua bisa mengasosiasikannya dengan benda-benda tertentu yang sudah akrab dengan kehidupan anak. Misal, angka satu seperti tongkat atau huruf "b" punya perut gendut seperti badut, dan sebagainya.

2. Auditif

Anak dengan gaya belajar auditori lebih mudah menyerap pelajaran dengan cara mendengar. Anak cenderung senang berkomunikasi dengan orang lain, dia dibilang sebagai pendengar yang ulung. Dia juga mampu mengingat dengan baik penjelasan yang diberikan

Solusi:

Bila auditifnya yang kuat, materi "pelajaran" bisa disampaikan lewat informasi pada pendengarannya. Semisal dengan sering-sering mendengarkan atau menyanyikan lagu-lagu tentang angka maupun huruf. Karena mengandalkan pendengaran, bisa juga dengan cara merekam suara, kemudian memperdengarkan melalui tape recorder. Atau cara lain misalnya dengan membacakan dongeng atau cerita.

Yang jelas, selaraskan dengan minat anak karena anak pasti akan menyukai apa yang diminatinya. Jadi, kalau si anak suka menyanyi, akan sangat pas bila mengenalkannya lewat lagu. Sedangkan buat anak yang hobi

main mobil-mobilan, masukkan "pelajaran" lewat mainannya, seperti menanyakan berapa jumlah roda mobilnya. Bisa juga dengan menggunakan tokoh-tokoh yang anak sukai. Cara-cara sederhana seperti ini akan jauh lebih efektif ketimbang menggunakan fasilitas yang serba canggih namun anak tak menaruh minat.

3.Kinestetik

Si kecil mengandalkan gerak tubuh. Selalu ingin bergerak dan sulit untuk bersikap tenang. Dia menyukai permainan dan aktivitas fisik, suka menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya. Akan tetapi dia sulit menguasai hal-hal abstrak seperti simbol dan lambang. Sering mengerjakan sesuatu dengan tangannya. Lalu, praktik dan percobaan sederhana sangat disukainya.

Solusi:

Dengan mengenalkan aneka permainan fisik yang mengasah kemampuan kinestetik. Ajarkan sambil bermain kuas/pensil untuk membentuk huruf maupun angka. Latihan semacam ini sekaligus juga dapat melatih motorik halusnya.

Belajar juga bisa dengan menyanyi dan menari. Semisal dengan mengajari anak mengenai angka sambil bernyanyi, "Dua mata saya, hidung saya satu..." Jangan lupa, saat menyanyikan lagu tersebut hendaknya orangtua ikut menunjuk anggota tubuh yang dimaksud. Mintalah anak untuk melakukan hal yang sama.

Belajar lewat bermain peran juga bermanfaat. Yang pasti, saat belajar, anak-anak kinestetik membutuhkan jeda yang lebih sering daripada anak-anak dengan dua gaya belajar sebelumnya, sebab umumnya mereka cepat bosan. Belajar beberapa puluh menit saja sudah membuatnya gelisah.

Sekali lagi, cara mengajarkan pada setiap anak berbeda, sesuai dengan kemampuan masing-masing yang menonjol. Tapi yang terbaik adalah menstimulasinya melalui gabungan semua aspek. Soalnya, semakin banyak panca indra yang digunakan, semakin besar pula kemungkinan pemahaman anak akan angka dan huruf.

Sumber : Nakita

0 komentar: